Kisah inspiratif alumni Fakultas Farmasi Universitas Pancasila yang membuktikan pengalaman organisasi kemahasiswaan adalah investasi terbaik untuk masa depan. Sosok profesional yang menjaga keseimbangan hidup melalui golf, renang, dan membaca.
Jakarta, 08 Januari 2026 - Herizal Busnamy, alumni Fakultas Farmasi Universitas Pancasila (FFUP) angkatan 1982, memiliki perjalanan karir yang luar biasa inspiratif. Dari seorang mahasiswa yang hampir gagal diterima hingga menjadi direktur perusahaan farmasi ternama dan pengusaha sukses, kisahnya membuktikan bahwa ketangguhan dan pengalaman organisasi adalah kunci kesuksesan.
Awal yang Tak Terduga
Perjalanan Herizal dimulai dengan cara yang tidak biasa. Saat mendaftar sebagai calon mahasiswa FFUP tahun 1982, ia hampir gagal karena datang pada hari kedua ujian seleksi. Seharusnya ia gugur karena tidak mengikuti tes hari pertama, namun kebaikan hati salah satu dosen memberikannya kesempatan istimewa untuk mengikuti ujian seorang diri di ruang khusus. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan, dan akhirnya ia resmi diterima sebagai mahasiswa FFUP tahun 1982.
Namun, kehidupan segera memberikan ujian yang jauh lebih berat. Hanya tiga bulan setelah memulai perkuliahan, pada Desember 1982, Herizal kehilangan sosok ayah yang sangat dikaguminya. Pesan terakhir sang ayah di rumah sakit menjadi api penyemangat yang tak pernah padam: "Selesaikan kuliahmu di FFUP sampai tuntas." Sejak saat itu, ibunya mengambil peran ganda sebagai single parent, mencari nafkah sekaligus melanjutkan kehidupan keluarga.
Membangun Fondasi di Senat Mahasiswa
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, di awal perkuliahan Herizal ditunjuk oleh teman-temannya sebagai Ketua Kelas, atau yang saat itu dikenal dengan istilah Komti (Komisariat Tingkat 1). Kepemimpinan awal ini membuka pintu aktivitas organisasi yang lebih luas.
Di tahun kedua, ia aktif sebagai pengurus Senat Mahasiswa Farmasi dan benar-benar menikmati setiap kegiatannya. Prestasi gemilang datang ketika ia terpilih menjadi Mahasiswa Teladan II Tingkat Jakarta dalam ajang Kopertis Wilayah Jakarta. Pencapaian ini memberinya manfaat finansial berupa Beasiswa Supersemar dari Pemerintah, yang sangat membantu kelanjutan studinya.
Perjalanan organisasinya terus menanjak. Herizal menjabat sebagai Sekretaris Umum (Sekum) Senat Mahasiswa dan mencapai puncaknya sebagai Ketua BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) FFUP—sebuah posisi yang sangat prestisius di kalangan mahasiswa kala itu.
Di tahun ketiga, kepercayaan dosen semakin besar. Ia dipilih menjadi Asisten Dosen di Lab Kimia Analisa Kuantitatif, pengalaman yang tidak hanya memperdalam ilmunya tetapi juga mempererat hubungan dengan para dosen. Berkat kerja keras dan dukungan lingkungan kampus, Herizal berhasil menyelesaikan pendidikan S1 pada tahun 1988 dengan waktu yang relatif cepat.
Menapaki Dunia Industri Farmasi
Setelah lulus, Herizal mencoba mengadu nasib di luar kampus. Pada tahun 1990-1991, ia bergabung dengan PT Sandoz Biochemie sebagai Medical Representative hingga naik menjadi Senior Medical Representative. Pengalaman bertemu dengan banyak kolega dokter di berbagai rumah sakit memberikannya wawasan mendalam tentang industri kesehatan Indonesia.
Kembali ke Kampus dan Melanjutkan Karir
Merasa terpanggil untuk melengkapi kompetensinya, pada tahun 1991-1992 Herizal kembali ke kampus melanjutkan pendidikan Profesi Apoteker di FFUP. Tiga bulan sebelum menyelesaikan pendidikan apotek, sebuah peluang emas datang menghampiri.
Atas rekomendasi yang baik, ia mendapat kesempatan melamar posisi Area Manager di salah satu BUMN Farmasi. Melalui proses seleksi yang panjang, pada awal 1992 Herizal diterima di PT Indofarma sebagai Area Manager untuk wilayah Surabaya dan Bali.
Pengalaman hidup jauh dari ibu dan keluarga di Jakarta membentuk karakternya menjadi lebih mandiri dan tangguh. Di perusahaan ini ia berkarir selama delapan tahun (1992-2000) dengan posisi terakhir sebagai Product Manager.
Menghadapi Krisis dengan Pendidikan
Ketika gelombang krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1997-1998 dan hampir semua perusahaan mengalami kesulitan, Herizal justru melihatnya sebagai momentum untuk bertumbuh. Hasrat besarnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi akhirnya terwujud.
Pada tahun 2000, ia berhasil meraih gelar S2 Magister Manajemen dari FE Universitas Pancasila dengan predikat cum laude dan menjadi mahasiswa S2 dengan IPK tertinggi pada angkatannya. Prestasi akademik yang gemilang di tengah kondisi ekonomi yang sulit ini menunjukkan dedikasi dan ketangguhannya.
Mencapai Puncak Karir Korporat
Dengan bekal gelar Master Manajemen, tawaran posisi strategis berdatangan. Pada tahun 2001, Herizal bergabung dengan PT Kimia Farma, salah satu BUMN dan perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, dengan posisi sebagai Marketing Manager OTC dan Manager Ethical.
Setelah tujuh tahun membuktikan kompetensinya di Kimia Farma, pada Maret 2008 ia dipercaya oleh Direktur Utama Kimia Farma untuk memimpin PT Pharmasolindo sebagai Direktur Utama. Perusahaan marketing yang membawahi 400 Medical Representative dengan tanggung jawab mempromosikan produk ethical Kimia Farma ini berkembang pesat di bawah kepemimpinannya.
Yang membanggakan, ketika Herizal meninggalkan Pharmasolindo pada Maret 2011, perusahaan tersebut sedang berada dalam performa terbaik—sebuah legacy yang luar biasa bagi seorang pemimpin.
Terus Berkarya di Industri
Hanya satu bulan setelah keluar dari Pharmasolindo, Herizal bergabung dengan PT Dipa Pharmalab Intersains (DPI) sebagai Marketing Director, bertanggung jawab mempromosikan produk unggulan Plasbumin dan derivat produk darah lainnya. Selama tiga tahun memimpin marketing DPI, ia semakin memantapkan reputasinya sebagai profesional farmasi yang handal.
Berani Berbisnis Sendiri
Setelah berkarir di berbagai perusahaan besar, Herizal memutuskan untuk berani melangkah menjadi entrepreneur. Atas masukan dan dukungan penuh keluarga, pada tahun 2015 ia mendirikan PT Anugerah Nityasa Adika (PT ANA) yang bergerak di bidang Marketing, Trading, dan Consulting.
Alhamdulillah, hingga saat ini perusahaan PT ANA masih berdiri kokoh dengan 30 karyawan yang tersebar di Sumatra, Jawa, Makassar, dan Pontianak. Tujuan mulia di balik pendirian perusahaan ini adalah membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain dan tumbuh bersama—sebuah filosofi bisnis yang mencerminkan nilai-nilai yang ia pegang teguh.
Pengabdian untuk Almamater
Kecintaan Herizal terhadap almamater tidak pernah pudar. Bahkan setelah lulus, karena terbiasa aktif berorganisasi, ia diberi kepercayaan memimpin organisasi alumni. Selama dua periode (2002-2008), ia menjabat sebagai Ketua Alumni FFUP dan juga aktif di Alumni KAUP, terus berkontribusi untuk pengembangan almamater tercinta.
Kehidupan Keluarga dan Keseimbangan Hidup
Karena kesibukan berorganisasi dan berkarir, Herizal agak terlambat menemukan pasangan hidup. Namun keberuntungan berpihak padanya. Pada tahun 1995, ia berjumpa dan menikah dengan seorang wanita yang sangat memahami pekerjaannya. Sang istri memutuskan menjadi ibu rumah tangga setelah anak kedua mereka lahir.
Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak—dua putra dan satu putri. Saat ini, ketiga anak mereka telah tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan semua bekerja di Multinational Company (MNC) sebagai konsultan—sebuah kebanggaan tersendiri bagi orang tua.
Menjaga Keseimbangan dengan Hobi
Di tengah kesibukan berkarir dan berbisnis yang padat, Herizal selalu menyempatkan waktu untuk menjaga keseimbangan hidup. Ia memiliki tiga hobi yang rutin dilakukan: golf, renang, dan membaca.
Golf menjadi salah satu aktivitas favoritnya, tidak hanya sebagai olahraga tetapi juga sebagai sarana membangun relasi bisnis dan menjaga networking dengan para profesional. Renang adalah pilihan untuk menjaga kebugaran fisik dan kesehatan, sementara membaca menjadi nutrisi bagi pikirannya—sebuah kebiasaan yang terus dipelihara sejak masa kuliah hingga kini.
Ketiga hobi ini mencerminkan filosofi hidupnya tentang pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, dan pengembangan diri yang berkelanjutan.
Warisan Nilai dari Orang Tua
Latar belakang keluarga Herizal sangat membentuk karakternya. Ayahnya adalah seorang Tentara dengan didikan disiplin yang sangat keras, sementara ibunya adalah sosok ibu rumah tangga dengan kelembutan yang selalu menjaga keluarga dengan penuh kasih sayang. Meski ayahnya meninggal di usia 53 tahun, nilai-nilai yang ditanamkan tetap tertanam kuat.
Herizal sangat bangga dengan kedua orang tuanya yang memiliki family value yang kuat. Ada tiga nilai fundamental yang diajarkan dan ia pegang teguh dalam menjalani kehidupan:
1. Memiliki niat yang baik dalam setiap melakukan pekerjaan
2. Memiliki integritas
3. Bila berhasil harus berbagi dengan sesama
Pelajaran Berharga dari Perjalanan Hidup
Dari pengalaman hidup yang penuh liku-liku ini, Herizal merasa sangat beruntung kuliah di FFUP dan aktif di Senat Mahasiswa. Aktivitas organisasi itulah yang mengantarkannya meraih karir gemilang di berbagai perusahaan besar.
Tanpa ia sadari, kemampuan berkomunikasi, membangun network, dan mudah beradaptasi dengan lingkungan yang dipupuk selama aktif di Senat Mahasiswa ternyata menjadi modal utama yang berbuah manis ketika masuk ke lapangan kerja nyata. Soft skills ini bahkan terbukti sama pentingnya, bahkan melebihi, hard skills teknis yang diperoleh di bangku kuliah.
Pesan untuk Generasi Muda
Sebagai anak pensiunan tentara dan anak yatim yang berjuang keras untuk tidak menyerah atas kehidupan dunia yang penuh dinamika, Herizal menyampaikan cerita sederhananya untuk adik-adik mahasiswa FFUP yang dicintainya.
Perjalanannya membuktikan bahwa dengan izin Tuhan, seseorang mampu melewati masa-masa sulit dan terus melangkah untuk meraih kebaikan bersama sesama. Kunci utamanya adalah: niat yang baik, integritas yang kuat, dan kemauan untuk berbagi.
Kesimpulan
Perjalanan karir Herizal Busnamy dari mahasiswa FFUP angkatan 1982 yang hampir gagal diterima, hingga menjadi Direktur Utama perusahaan farmasi dan pengusaha sukses, adalah bukti nyata bahwa:
· Organisasi kemahasiswaan bukan sekadar aktivitas sampingan, tetapi investasi masa depan
· Soft skills seperti komunikasi, networking, dan adaptabilitas sama pentingnya dengan keahlian teknis
· Ketangguhan menghadapi cobaan hidup membentuk karakter yang kuat
· Pendidikan berkelanjutan adalah kunci untuk terus berkembang
· Nilai-nilai integritas dan berbagi adalah fondasi kesuksesan yang berkelanjutan
Kisah Herizal Busnamy menjadi inspirasi bahwa tidak peduli dari mana kita memulai atau ujian apa yang kita hadapi, dengan kerja keras, integritas, dan komitmen untuk terus belajar dan berbagi, kesuksesan yang bermakna dapat diraih.
Semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis berdasarkan kisah nyata Herizal Busnamy, alumni FFUP angkatan 1982, sebagai inspirasi untuk generasi mahasiswa farmasi dan profesional muda Indonesia.

